Dalam dunia pendidikan Islam, setiap mata pelajaran tidak hanya dinilai dari aspek keterampilan, tetapi juga dari nilai, adab, dan dampaknya terhadap pembentukan karakter peserta didik. Atas dasar itulah, sekolah kami (MTQ Al-Ishlah Payakumbuh) mengambil langkah pedagogis dan syar‘i untuk mengarahkan pembelajaran Seni Budaya menjadi pembelajaran Khat (kaligrafi Arab/Islam).
Keputusan ini bukanlah penolakan terhadap seni, melainkan ikhtiar menempatkan seni pada jalur yang selaras dengan aqidah Islam dan pemahaman Salafush Shalih.
🎓 Seni dalam Islam: Indah, Bermakna, dan Terikat Adab
Islam adalah agama yang mencintai keindahan. Namun keindahan dalam Islam tidak berdiri bebas tanpa batas, melainkan terikat oleh nilai tauhid, adab, dan kemaslahatan. Oleh karena itu, para ulama salaf sangat berhati-hati dalam menyikapi bentuk-bentuk seni, khususnya yang berpotensi melalaikan atau mendekati perkara yang diharamkan.
Salah satu bentuk seni yang diakui, berkembang, dan dijaga dalam peradaban Islam sejak masa awal adalah khat, yaitu seni menulis huruf Arab dengan indah, tertib, dan penuh ketelitian. Khat bukan sekadar karya visual, tetapi sarana menjaga kemuliaan bahasa Arab dan Al-Qur’an.
🖋️ Khat sebagai Pilihan Pendidikan yang Aman dan Bermakna
Pembelajaran khat memiliki keunggulan yang sangat relevan dengan tujuan pendidikan Islam, antara lain:
- Menumbuhkan kesabaran, ketelitian, dan kedisiplinan
- Melatih fokus dan keteraturan berpikir
- Menanamkan rasa ta‘zhim (penghormatan) terhadap Al-Qur’an dan kalam yang baik
- Membiasakan peserta didik untuk berkarya dengan niat yang lurus dan bertanggung jawab
- Menghindarkan peserta didik dari seni yang berpotensi syubhat atau bertentangan dengan adab syariat
Dengan khat, seni tidak menjadi sekadar ekspresi diri, tetapi media tarbiyah yang membentuk akhlak.
📚 Selaras dengan Kurikulum Merdeka
Pengalihan Seni Budaya ke pembelajaran Khat tetap sejalan dengan struktur Kurikulum Merdeka, khususnya lima elemen utama pembelajaran seni, yaitu:
- Mengalami (Experiencing)
Peserta didik mengamati bentuk huruf Arab dan karya khat sederhana. - Merefleksikan (Reflecting)
Peserta didik merefleksikan proses belajar, kesulitan, dan nilai kesabaran dalam berkarya. - Berpikir dan Bekerja Secara Artistik
Peserta didik merencanakan karya, mengatur komposisi, dan mengikuti kaidah penulisan. - Menciptakan (Making/Creating)
Peserta didik menghasilkan karya khat sesuai tingkat perkembangan usia. - Berdampak (Impacting)
Karya digunakan sebagai media syiar kebaikan dan penghias lingkungan belajar yang bernilai edukatif.
Dengan demikian, tidak ada elemen kurikulum yang ditinggalkan, justru diarahkan agar lebih bermakna dan berdaya guna.
🧭 Konsisten dengan Nilai dan Visi Sekolah Islam
Sebagai lembaga pendidikan Islam yang berkomitmen pada pemurnian aqidah, penanaman adab, dan pembentukan karakter, sekolah kami memandang bahwa pembelajaran khat:
- Lebih aman secara syar‘i
- Lebih kuat secara tarbiyah
- Lebih jelas arah manfaatnya
- Lebih mudah dipertanggungjawabkan kepada orang tua dan masyarakat
Langkah ini juga menjadi bentuk kehati-hatian dalam pendidikan, agar peserta didik tumbuh dalam lingkungan belajar yang bersih dari perkara syubhat dan terbiasa dengan keindahan yang mendidik.
Mengganti Seni Budaya dengan Khat (kaligrafi Arab/Islam) adalah pilihan yang sangat kuat, aman secara syar‘i, dan matang secara pedagogis—terutama untuk sekolah yang berkomitmen pada manhaj Salafush Shalih.
Berikut penjelasan tajam, proporsional, dan siap dijadikan dasar kebijakan sekolah.
1️⃣ SECARA MANHAJ SALAF: KHAT AMAN, SENI UMUM BANYAK SYUBHAT
🔒 Prinsip Salaf:
- Menutup pintu syubhat (sadd adz-dzari‘ah)
- Mengarahkan bakat kepada amal yang jelas maslahatnya
- Menghindari seni yang berpotensi:
- melalaikan
- menyerupai budaya non-Islam
- membuka pintu musik, tari, dan ekspresi bebas
📌 Khat tidak mengandung unsur-unsur tersebut.
2️⃣ SECARA SYAR‘I: KHAT BERAKAR KUAT DALAM ISLAM
📖 Dalil & landasan:
- Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab → penulisan dan keindahan huruf Arab adalah wasilah menjaga wahyu
- Para ulama Salaf mengagungkan tulisan Arab, bukan sekadar hiasan
- Kaligrafi berkembang dalam peradaban Islam tanpa musik, patung, atau ritual
➡️ Khat = seni yang tumbuh dari kebutuhan ilmu, bukan hiburan
3️⃣ SECARA AKHLAK & TARBIYAH: KHAT MEMBENTUK KARAKTER
Berbeda dengan seni bebas, khat secara alami melatih:
- 🧠 Sabar (menulis huruf demi huruf)
- ✋ Ketelitian & disiplin
- 🧎♂️ Tawadhu‘ (tidak bisa tergesa-gesa)
- 📏 Keteraturan & keseimbangan
- ❤️ Ta‘zhim terhadap Al-Qur’an
📌 Ini selaras dengan tujuan tarbiyah Salaf:
ilmu → adab → amal
4️⃣ SECARA PEDAGOGIS: KHAT BISA MENGGANTIKAN SEMUA ELEMEN SENI
Jika kita lihat 5 elemen Seni Budaya Kurikulum Merdeka, semuanya bisa dipenuhi oleh Khat:
1. Mengalami (Experiencing)
- Mengamati bentuk huruf Arab
- Mengenal jenis khat (Naskhi, Riq‘ah, Tsuluts – disesuaikan usia)
2. Merefleksikan (Reflecting)
- Merefleksi kesulitan menulis
- Mengaitkan proses dengan sabar dan niat ibadah
3. Berpikir & Bekerja Artistik
- Merencanakan tata letak tulisan
- Memilih ukuran, jarak, dan keseimbangan huruf
4. Menciptakan (Making)
- Menulis huruf, kata, ayat pendek, doa, atau kalimat hikmah
5. Berdampak (Impacting)
- Karya dipajang sebagai syiar kebaikan
- Menumbuhkan cinta Al-Qur’an & bahasa Arab
➡️ Tidak ada elemen kurikulum yang hilang.
5️⃣ DARI SUDUT KEBIJAKAN SEKOLAH: INI KEPUTUSAN CERDAS
Mengganti Seni Budaya dengan Khat berarti:
✅ Konsisten dengan aqidah
✅ Tidak perlu debat musik
✅ Aman dari tuntutan seni “ekspresif”
✅ Selaras dengan visi sekolah Islam
✅ Dapat dipertanggungjawabkan ke orang tua & yayasan
📌 Banyak pesantren salaf, ma’had tahfizh, dan SD Islam serius sudah melakukan ini—secara diam-diam atau terbuka.
6️⃣ REDAKSI KEBIJAKAN YANG SIAP DIPAKAI (PENTING)
“Mapel Seni Budaya di sekolah ini diarahkan pada pembelajaran Khat (kaligrafi Arab/Islam) sebagai bentuk seni yang selaras dengan syariat Islam dan pemahaman Salafush Shalih. Pembelajaran menekankan keindahan tulisan Arab, ketelitian, kesabaran, serta penanaman adab dan kecintaan terhadap Al-Qur’an, tanpa menggunakan alat musik atau bentuk seni yang bertentangan dengan nilai Islam.”
7️⃣ KESIMPULAN
🔹 Mengganti Seni Budaya dengan Khat bukan kemunduran, justru:
- peningkatan kualitas tarbiyah
- penajaman identitas sekolah
- penjagaan aqidah anak sejak dini
🔹 Ini bukan menolak seni, tapi menempatkan seni pada jalur yang bersih dan bermanfaat.
🌱 Penutup
Mengganti Seni Budaya dengan pembelajaran Khat bukanlah kemunduran, melainkan peneguhan arah pendidikan Islam yang berlandaskan ilmu, adab, dan amal. Melalui khat, peserta didik tidak hanya belajar berkarya, tetapi juga belajar bersabar, tertib, dan mencintai Al-Qur’an.
Inilah seni yang menenangkan, mendidik, dan mengakar pada identitas keislaman—seni yang membentuk manusia beriman, berilmu, dan berakhlak.