Untuk mempertajam analisis secara konseptual–pedagogis, dengan mengaitkan langsung Khat (kaligrafi Arab/Islam) sebagai seni rupa dengan Capaian per Elemen Kurikulum Merdeka berikut diuraianargumentatif dan sistematis sekaligus kuat secara manhaj Salaf dan kokoh secara akademik.
Mengganti Seni Budaya dengan Khat (kaligrafi Arab/Islam) bukan sekadar penyesuaian nilai keislaman, melainkan penyelarasan mendalam antara seni rupa, pedagogi Kurikulum Merdeka, dan tujuan tarbiyah Islam. Jika ditelaah secara objektif, khat justru memenuhi secara utuh seluruh capaian per elemen seni rupa, bahkan dengan kedalaman makna yang lebih terarah.
1️⃣ Mengalami (Experiencing): Khat sebagai Pengalaman Visual yang Autentik
Capaian:
Peserta didik memahami unsur rupa di lingkungan sekitarnya dan menyimpulkan hasil pemahaman atas dua unsur rupa.
Analisis dalam konteks Khat:
Khat berangkat dari pengalaman visual nyata yang sangat dekat dengan peserta didik, yaitu:
- garis lurus dan lengkung
- tebal–tipis
- jarak dan keseimbangan
- ritme dan proporsi
Dalam pembelajaran khat, peserta didik:
- mengamati bentuk huruf Arab sebagai susunan garis dan lengkung,
- mengenali unsur rupa seperti garis dan bentuk secara konkret,
- menyimpulkan bahwa keindahan lahir dari keteraturan dan ketepatan, bukan kebebasan tanpa aturan.
➡️ Dengan demikian, pengalaman visual dalam khat bukan abstrak, tetapi terstruktur dan mudah dipahami, terutama untuk anak usia dini.
2️⃣ Merefleksikan (Reflecting): Bahasa Sehari-hari dalam Menilai Karya
Capaian:
Peserta didik menilai karya dan penciptaan karya seni rupa dengan menggunakan kosa kata sehari-hari.
Analisis dalam konteks Khat:
Khat sangat mendukung refleksi sederhana dan jujur. Peserta didik dapat menilai karyanya dengan ungkapan seperti:
- “garisnya rapi atau belum”
- “hurufnya terlalu miring”
- “jaraknya terlalu dekat”
- “tulisannya sudah jelas dibaca”
Refleksi ini:
- tidak memerlukan istilah seni tinggi,
- melatih kejujuran terhadap proses,
- menanamkan sikap menerima kekurangan dan memperbaiki diri.
➡️ Dalam tarbiyah Islam, refleksi semacam ini sejalan dengan muhasabah—menilai amal sebelum dinilai.
3️⃣ Berpikir dan Bekerja secara Artistik: Khat sebagai Seni Berpikir Teratur
Capaian:
Peserta didik menggunakan pengalaman visualnya sebagai sumber gagasan dalam berkarya dan mengeksplorasi alat dan bahan dasar.
Analisis dalam konteks Khat:
Berbeda dengan seni ekspresif bebas, khat:
- melatih berpikir sebelum bekerja,
- menuntut perencanaan (posisi huruf, arah garis, ukuran),
- mengajarkan bahwa ide harus tunduk pada kaidah, bukan sebaliknya.
Peserta didik:
- menggunakan pengalaman visual huruf yang dilihat sehari-hari (buku, papan tulis, mushaf),
- mengeksplorasi alat sederhana: pensil, spidol, pena, kertas, papan tulis,
- belajar bahwa alat yang sederhana bisa melahirkan karya bernilai tinggi jika digunakan dengan benar.
➡️ Ini sejalan dengan prinsip Salaf: ilmu didahulukan sebelum amal.
4️⃣ Menciptakan (Making/Creating): Khat sebagai Karya Nyata Seni Rupa
Capaian:
Peserta didik membuat karya seni rupa menggunakan unsur garis, bentuk, dan/atau warna.
Analisis dalam konteks Khat:
Khat secara esensial adalah seni garis dan bentuk. Bahkan:
- garis = fondasi huruf,
- bentuk = struktur makna,
- warna (opsional) = penegas visual, bukan inti.
Peserta didik menciptakan:
- huruf tunggal,
- kata,
- kalimat hikmah,
- ayat pendek atau doa,
semuanya:
- berbasis hasil pengamatan,
- sesuai kemampuan usia,
- memiliki nilai edukatif dan religius.
➡️ Ini adalah penciptaan seni rupa yang otentik, bukan simulasi atau tempelan nilai.
5️⃣ Berdampak (Impacting): Karya yang Mendidik dan Menenangkan
Capaian:
Peserta didik memberikan respons terhadap kejadian sehari-hari dan keadaan lingkungan melalui karya seni rupa yang memberi dampak positif.
Analisis dalam konteks Khat:
Khat memiliki dampak langsung dan terukur, antara lain:
- menenangkan jiwa,
- melatih kesabaran,
- menumbuhkan rasa bangga terhadap karya yang bermanfaat,
- menghadirkan nilai kebaikan melalui tulisan yang bermakna.
Peserta didik dapat:
- menulis kalimat nasihat,
- doa harian,
- pesan menjaga kebersihan,
- ajakan berbuat baik,
➡️ Dampaknya tidak berhenti pada estetika, tetapi masuk ke ranah akhlak dan perilaku.
🧭 Kesimpulan Analitis
Jika ditinjau secara objektif dan akademik:
- ✅ Seluruh elemen Seni Budaya terpenuhi oleh Khat
- ✅ Khat lebih terstruktur, aman, dan bermakna
- ✅ Tidak membuka pintu syubhat
- ✅ Selaras dengan tujuan Kurikulum Merdeka
- ✅ Sejalan dengan manhaj Salafush Shalih
Dengan demikian, mengganti Seni Budaya dengan Khat bukan pengurangan, melainkan penajaman arah seni sebagai sarana pendidikan dan pembentukan karakter.